Jika Anda mengunjungi kedai Soto Lamongan atau Pecel Lele, salah satu yang ikonik ialah spanduknya yang dilukis seragam.
Di antara banyaknya Soto Lamongan yang tersebar, ternyata hanya ada sedikit orang yang bisa membuat spanduk ikonik tersebut.
Salah satunya Hartono (47), Laki-laki asli Lamongan yang sudah 20 tahun bergelut di dunia Soto Lamongan dan Pecel Lele-nya ini kini masih terampil memoles tinta diatas spanduk kain.
Kain demi kain yang terlukis warna-warni dengan ragam binatang, Seperti, Ayam, Lele, Bebek, Ikan mas, dan lain lain,sedang dijemur di bagian depan rumahnya. Pemandangan ini akan Anda temui saat berkunjung ke Jalan Laskar Dalam nomor 83 Pekayon jaya Bekasi, Jawa Barat
Senin, 14 Oktober 2019
Minggu, 06 Oktober 2019
Menakar Orisinalitas Spanduk Pecel Lamongan
https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180928225222-241-334157/menakar-orisinalitas-spanduk-pecel-lamongan
Menakar Orisinalitas Spanduk Pecel Lamongan
Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 30/09/2018 13:34 WIB
Meski para pengrajin spanduk pecel Lamongan mengklaim bahwa gaya mereka adalah identitas asli, namun pakar komunikasi visual meragukannya. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Temaran lampu jalanan menyinari salah satu warung makan pecel lele di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Warna putih spanduk yang menyelimuti warung tampak kumal. Pun warna cerah pada tulisan dan gambar hewan memudar.
Meski kondisi tidak paripurna, spanduk itu tetap menarik bila diperhatikan secara mendalam, karena spanduk bergaya seperti itu hanya ada Indonesia. Bukan cuma di Jakarta, spanduk dengan gaya itu tersebar di berbagai daerah Indonesia dari Aceh sampai Papua.
Spanduk itu lahir dari Kabupaten Lamongan yang terletak di Jawa Timur. Belum ada pecel lele, dulu pedagang berjualan soto ayam atau yang biasa disebut soto Lamongan. Mereka melukis spanduk sendiri yang berfungsi sebagai penutup warung dan pemasaran.
Makanan pecel lele dan pecel ayam disebut baru muncul pada akhir era '70-an. Kemunculan dua menu itu menjadi salah satu titik perkembangan spanduk lukis. Spanduk yang sedianya bergambar soto bertambah gambar ayam dan lele.
Spanduk selalu dilukis dengan banyak warna cerah agar terlihat terang di malam hari. Para pedagang berpendapat spanduk yang cerah akan menarik pembeli, seperti laron yang tertarik cahaya pijar.
Seiring berjalannya waktu kualitas lukis spanduk semakin meningkat. Spanduk tersebut tersebar ke seluruh Indonesia karena orang Lamongan yang merantau berjualan pecel dan memakai spanduk seperti pedagang di kampungnya.
Persebaran yang masif membuat spanduk itu jadi identik khas Lamongan. Hal itu diklaim oleh pelukis spanduk, Trisno yang saat ini tinggal di Serang, Banten. Ia asli Lamongan dan merantau sejak 2009.
"Ya spanduk ini seperti identitas Lamongan. Salah satu khas spanduk pecel Lamongan itu dilukis," kata Trisno, beberapa waktu lalu.
Dosen komunikasi visual Program Studi Jurnalistik Universitas Padjadjaran Sandi Jaya Saputra meragukan spanduk tersebut adalah khas dan identitas Lamongan.
Sandi menilai, dewasa ini, orang yang bukan asli Lamongan juga bisa membuat spanduk tersebut.
Selain itu, diketahui ada spanduk pecel dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang juga dilukis. Namun bedanya dengan spanduk pecel Lamongan adalah mayoritas spanduk asal Brebes tidak memiliki gambar hewan dan menggunakan warna merah serta biru.
"Saya tidak melihat spanduk itu sebagai kekhasan Lamongan. Spanduk itu diklaim sebagai khas karena mayoritas pedagang adalah orang Lamongan," kata Sandi.
Sandi mengatakan pembuatan spanduk pecel lele Lamongan dilukis karena saat itu teknologi percetakan belum canggih. Teknik lukis yang dianggap sebagai khas Lamongan otomatis gugur karena saat ini ada spanduk pecel yang disablon.
Hartono adalah salah satu pelukis yang mengombinasikan teknik sablon dan lukis untuk membuat spanduk.
Sablon ia gunakan untuk huruf dan lukis ia gunakan untuk gambar binatang. Kombinasi ia lakukan untuk menghemat waktu namun tak menghilangkan pakem spanduk pecel Lamongan.
Bila dilihat dari sudut pandang ilmu desain visual, spanduk pecel Lamongan dianggap tergolong dalam tipografi vernakular.
Mengutip laman Binus Malang, tipografi vernakular merupakan desain visual yang dibuat oleh sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan dan terus berkembang.
Pelaku desain tipografi vernakular biasanya mengedepankan kefektifan ketimbang estestika.
Hal ini terlihat kala pelukis spanduk pecel lele Lamongan menabrakkan sejumlah warna cerah karena bertujuan menarik pembeli, soal komposisi warna bagus atau tidak itu urusan belakangan.
Tujuan tersebut diperkuat dengan gaya desain yang sama meski tak ada kesepakatan diantara pelukis. Secara sengaja, warna cerah dan gambar hewan sesuai menu makanan selalu ada.
Semua demi bisa menarik pembeli, tak peduli urusan orisinalitas seni.
Walau memandang spanduk pecel Lamongan bukan sebagai khas daerah tersebut, Sandi memandang kesadaran pelukis terhadap ruang komunikasi visual sangat menarik.
Di sisi lain, belum tentu semua pelukis mengeyam ilmu desain komunikasi visual (DKV) sampai perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan ada keunggulan lain yang dimiliki oleh budaya masyarakat Lamongan.
"Itu pengetahuan lokal yang sebenarnya dasar pengetahuan mainstream dalam desain. Pengetahuan mereka dari dulu setara dengan pengetahuan saat ini," kata Sandi. (end)
Meski kondisi tidak paripurna, spanduk itu tetap menarik bila diperhatikan secara mendalam, karena spanduk bergaya seperti itu hanya ada Indonesia. Bukan cuma di Jakarta, spanduk dengan gaya itu tersebar di berbagai daerah Indonesia dari Aceh sampai Papua.
Spanduk itu lahir dari Kabupaten Lamongan yang terletak di Jawa Timur. Belum ada pecel lele, dulu pedagang berjualan soto ayam atau yang biasa disebut soto Lamongan. Mereka melukis spanduk sendiri yang berfungsi sebagai penutup warung dan pemasaran.
Makanan pecel lele dan pecel ayam disebut baru muncul pada akhir era '70-an. Kemunculan dua menu itu menjadi salah satu titik perkembangan spanduk lukis. Spanduk yang sedianya bergambar soto bertambah gambar ayam dan lele.
Seiring berjalannya waktu kualitas lukis spanduk semakin meningkat. Spanduk tersebut tersebar ke seluruh Indonesia karena orang Lamongan yang merantau berjualan pecel dan memakai spanduk seperti pedagang di kampungnya.
Persebaran yang masif membuat spanduk itu jadi identik khas Lamongan. Hal itu diklaim oleh pelukis spanduk, Trisno yang saat ini tinggal di Serang, Banten. Ia asli Lamongan dan merantau sejak 2009.
"Ya spanduk ini seperti identitas Lamongan. Salah satu khas spanduk pecel Lamongan itu dilukis," kata Trisno, beberapa waktu lalu.
Trisno, pelukis spanduk pecel lele Lamongan mempertahankan teknik melukis. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama) |
Dosen komunikasi visual Program Studi Jurnalistik Universitas Padjadjaran Sandi Jaya Saputra meragukan spanduk tersebut adalah khas dan identitas Lamongan.
Sandi menilai, dewasa ini, orang yang bukan asli Lamongan juga bisa membuat spanduk tersebut.
Selain itu, diketahui ada spanduk pecel dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang juga dilukis. Namun bedanya dengan spanduk pecel Lamongan adalah mayoritas spanduk asal Brebes tidak memiliki gambar hewan dan menggunakan warna merah serta biru.
"Saya tidak melihat spanduk itu sebagai kekhasan Lamongan. Spanduk itu diklaim sebagai khas karena mayoritas pedagang adalah orang Lamongan," kata Sandi.
Contoh spanduk pecel lele asal Brebes, dengan permainan gradasi merah dan biru di bagian tulisan warung. (CNN Indonesia/M. Andika Putra) |
Sandi mengatakan pembuatan spanduk pecel lele Lamongan dilukis karena saat itu teknologi percetakan belum canggih. Teknik lukis yang dianggap sebagai khas Lamongan otomatis gugur karena saat ini ada spanduk pecel yang disablon.
Hartono adalah salah satu pelukis yang mengombinasikan teknik sablon dan lukis untuk membuat spanduk.
Sablon ia gunakan untuk huruf dan lukis ia gunakan untuk gambar binatang. Kombinasi ia lakukan untuk menghemat waktu namun tak menghilangkan pakem spanduk pecel Lamongan.
Bila dilihat dari sudut pandang ilmu desain visual, spanduk pecel Lamongan dianggap tergolong dalam tipografi vernakular.
Mengutip laman Binus Malang, tipografi vernakular merupakan desain visual yang dibuat oleh sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan dan terus berkembang.
Pelaku desain tipografi vernakular biasanya mengedepankan kefektifan ketimbang estestika.
Hal ini terlihat kala pelukis spanduk pecel lele Lamongan menabrakkan sejumlah warna cerah karena bertujuan menarik pembeli, soal komposisi warna bagus atau tidak itu urusan belakangan.
Tujuan tersebut diperkuat dengan gaya desain yang sama meski tak ada kesepakatan diantara pelukis. Secara sengaja, warna cerah dan gambar hewan sesuai menu makanan selalu ada.
Contoh spanduk pecel Lamongan. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama) |
Walau memandang spanduk pecel Lamongan bukan sebagai khas daerah tersebut, Sandi memandang kesadaran pelukis terhadap ruang komunikasi visual sangat menarik.
Di sisi lain, belum tentu semua pelukis mengeyam ilmu desain komunikasi visual (DKV) sampai perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan ada keunggulan lain yang dimiliki oleh budaya masyarakat Lamongan.
"Itu pengetahuan lokal yang sebenarnya dasar pengetahuan mainstream dalam desain. Pengetahuan mereka dari dulu setara dengan pengetahuan saat ini," kata Sandi. (end)
Ada Cerita di Balik Spanduk Pecel Lamongan yang Ngejreng
https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180929002427-241-334164/ada-cerita-di-balik-spanduk-pecel-lamongan-yang-ngejreng
Spanduk pecel lele khas Lamongan memiliki kisah lebih dari tiga dekade, mengalami evolusi seni tapi masih bertahan dengan identitas kedaerahan yang kental. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Ada Cerita di Balik Spanduk Pecel Lamongan yang Ngejreng
Tim, CNN Indonesia | Minggu, 30/09/2018 08:30 WIB
Spanduk pecel lele khas Lamongan memiliki kisah lebih dari tiga dekade, mengalami evolusi seni tapi masih bertahan dengan identitas kedaerahan yang kental. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak pernah terpikir dalam benak bahwa di balik spanduk pecel lele dan ayam bertulis "khas Lamongan" yang tersebar di berbagai tepi jalan itu ternyata punya cerita tersendiri.
Spanduk, yang rata-rata berwarna ngejreng dan 'norak' itu faktanya berfungsi bukan hanya penanda dagangan, tapi juga karya seni, bentuk komunikasi non-verbal, hingga identitas sosial dan budaya si pemiliknya.
Spanduk pecel lele yang khas Lamongan itu pun memiliki kisah lebih dari tiga dekade, mengalami evolusi seni namun masih bertahan dengan identitas kedaerahan yang kental.
Spanduk ngejreng itu juga menyuarakan kebanggaan akan asal-usul, menarik sesama latar belakang, serta faktor datangnya uang. Kami pun menelusuri soal spanduk tersebut lebih jauh dari gapaian spatula si tukang pecel di wajan penuh minyak.
Alkisah, menu pecel ayam dan lele baru muncul di Lamongan di akhir dekade '70-an. Sebagai barang dagang, menu ini hit di dekade '80-an. Perkembangan ini membawa dampak lain, yaitu merebaknya spanduk warung pecel yang berfungsi sebagai penutup dan penanda.
Namun uniknya, perkembangan spanduk pecel ini memiliki pola yang khas, yaitu dengan gaya dan pewarnaan yang sama tanpa sengaja. Seolah, masyarakat Lamongan kala itu satu jiwa satu pemikiran.
"Era 1990-an sudah banyak yang punya rasa seni. Ada yang enggak bisa sama sekali sampai bisa, ada yang memang suka gambar. Seperti saya suka gambar sejak sekolah," kata Hartono, salah seorang pembuat spanduk pecel Lamongan sejak 1994.
Hartono sendiri semula pedagang pecel lele yang gantung wajan pada 2008 kala pendapatan dari spanduk pecel ternyata jauh lebih menggiurkan, mulai dari belasan hingga puluhan juta rupiah per bulan.
Bila bisa dirangkum, spanduk pecel khas Lamongan memiliki ciri menggunakan warna hijau muda, oranye, kuning, dan jambon; nama warung di bagian atas punya tiga gradasi warna: merah, oranye, kuning; ada bordir bingkai di tepi spanduk; dan mutlak punya gambar hewan sesuai menu makanan.
Pun spanduk pecel Lamongan memiliki ciri khas yaitu dilukis. Sebenarnya ada pula spanduk pecel asal Brebes yang sama-sama dilukis, namun bedanya dengan Lamongan adalah mayoritas spanduk Brebes tidak terdapat gambar hewan dan hanya menggunakan warna merah serta biru.
Seiring dengan berjalannya waktu, spanduk pecel ini menyebar ke seluruh Indonesia dan dibuat oleh beragam orang, namun masih memiliki ciri yang sama dan menjadi ikon tersendiri.
"Karena selain untuk pemasaran, spanduk itu juga identitas kami. Kebanyakan yang bisa membuat spanduk lukis juga orang Lamongan. Walau ada pedagang dan penjual yang bukan orang Lamongan," kata Trisno, pembuat spanduk pecel Lamongan lainnya yang sudah menjual dari Aceh hingga Papua.
"Kami ada komunitas di Facebook, namanya Komunitas Spanduk Lukis Lamongan. Sekarang berubah menjadi Komunitas Pecel Lele Lamongan," kata Trisno.
Kesadaran ikon itu juga disadari oleh desainer lini busana Kamengski, Sulaiman Said yang kemudian mengangkatnya menjadi koleksi khusus karyanya. Peminatnya pun banyak.
"Ada yang komentar di Instagram, katanya orang Lamongan harus beli. Ada juga yang nanya kalau orang Lamongan yang beli dapat diskon apa enggak," kata Said mengingat komen di akun instagram @kamengski_stuff.
Walau dianggap telah menjadi ikon tersendiri, akademisi komunikasi visual Universitas Padjadjaran meragukan spanduk tersebut adalah khas dan identitas Lamongan.
"Saya tidak melihat spanduk itu sebagai kekhasan Lamongan. Spanduk itu diklaim sebagai khas karena mayoritas pedagang adalah orang Lamongan," kata Sandi.
Tapi, Sandi tak menampik bila kemunculan spanduk pecel Lamongan ini menunjukkan kecerdasan budaya dari masyarakat kota di Jawa Timur tersebut. Apalagi nyaris semua pengrajin belajar secara autodidak.
"Itu pengetahuan lokal yang sebenarnya dasar pengetahuan mainstream dalam desain. Pengetahuan mereka dari dulu setara dengan pengetahuan saat ini," kata Sandi.
Di balik lezatnya pecel ayam atau lele Lamongan yang disantap di malam hari, CNNIndonesia.com mengangkat keunikan spanduk pecel ini dalam fokus Makna Ngejreng Spanduk Pecel Lamongan, mengisahkannya dari sudut pandang para pengrajin dan dari berbagai sisi.
Keunikan spanduk pecel Lamongan ini sejatinya adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia memiliki rasa seni dan budaya yang tinggi, dan melekat dalam kehidupan sehari-hari dengan sederhana namun penuh makna, seperti kenangan lezatnya pecel lele dan ayam dari Lamongan.
Spanduk, yang rata-rata berwarna ngejreng dan 'norak' itu faktanya berfungsi bukan hanya penanda dagangan, tapi juga karya seni, bentuk komunikasi non-verbal, hingga identitas sosial dan budaya si pemiliknya.
Spanduk pecel lele yang khas Lamongan itu pun memiliki kisah lebih dari tiga dekade, mengalami evolusi seni namun masih bertahan dengan identitas kedaerahan yang kental.
Spanduk ngejreng itu juga menyuarakan kebanggaan akan asal-usul, menarik sesama latar belakang, serta faktor datangnya uang. Kami pun menelusuri soal spanduk tersebut lebih jauh dari gapaian spatula si tukang pecel di wajan penuh minyak.
Alkisah, menu pecel ayam dan lele baru muncul di Lamongan di akhir dekade '70-an. Sebagai barang dagang, menu ini hit di dekade '80-an. Perkembangan ini membawa dampak lain, yaitu merebaknya spanduk warung pecel yang berfungsi sebagai penutup dan penanda.
Namun uniknya, perkembangan spanduk pecel ini memiliki pola yang khas, yaitu dengan gaya dan pewarnaan yang sama tanpa sengaja. Seolah, masyarakat Lamongan kala itu satu jiwa satu pemikiran.
"Era 1990-an sudah banyak yang punya rasa seni. Ada yang enggak bisa sama sekali sampai bisa, ada yang memang suka gambar. Seperti saya suka gambar sejak sekolah," kata Hartono, salah seorang pembuat spanduk pecel Lamongan sejak 1994.
Hartono sendiri semula pedagang pecel lele yang gantung wajan pada 2008 kala pendapatan dari spanduk pecel ternyata jauh lebih menggiurkan, mulai dari belasan hingga puluhan juta rupiah per bulan.
Hartono tengah menggambar spanduk pecel lele Lamongan. (CNN Indonesia/M. Andika Putra) |
Bila bisa dirangkum, spanduk pecel khas Lamongan memiliki ciri menggunakan warna hijau muda, oranye, kuning, dan jambon; nama warung di bagian atas punya tiga gradasi warna: merah, oranye, kuning; ada bordir bingkai di tepi spanduk; dan mutlak punya gambar hewan sesuai menu makanan.
Pun spanduk pecel Lamongan memiliki ciri khas yaitu dilukis. Sebenarnya ada pula spanduk pecel asal Brebes yang sama-sama dilukis, namun bedanya dengan Lamongan adalah mayoritas spanduk Brebes tidak terdapat gambar hewan dan hanya menggunakan warna merah serta biru.
Seiring dengan berjalannya waktu, spanduk pecel ini menyebar ke seluruh Indonesia dan dibuat oleh beragam orang, namun masih memiliki ciri yang sama dan menjadi ikon tersendiri.
"Karena selain untuk pemasaran, spanduk itu juga identitas kami. Kebanyakan yang bisa membuat spanduk lukis juga orang Lamongan. Walau ada pedagang dan penjual yang bukan orang Lamongan," kata Trisno, pembuat spanduk pecel Lamongan lainnya yang sudah menjual dari Aceh hingga Papua.
"Kami ada komunitas di Facebook, namanya Komunitas Spanduk Lukis Lamongan. Sekarang berubah menjadi Komunitas Pecel Lele Lamongan," kata Trisno.
Kesadaran ikon itu juga disadari oleh desainer lini busana Kamengski, Sulaiman Said yang kemudian mengangkatnya menjadi koleksi khusus karyanya. Peminatnya pun banyak.
Trisno, pengrajin dari Lamongan meyakini spanduk juga sebagai identitas. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama) |
"Ada yang komentar di Instagram, katanya orang Lamongan harus beli. Ada juga yang nanya kalau orang Lamongan yang beli dapat diskon apa enggak," kata Said mengingat komen di akun instagram @kamengski_stuff.
Walau dianggap telah menjadi ikon tersendiri, akademisi komunikasi visual Universitas Padjadjaran meragukan spanduk tersebut adalah khas dan identitas Lamongan.
"Saya tidak melihat spanduk itu sebagai kekhasan Lamongan. Spanduk itu diklaim sebagai khas karena mayoritas pedagang adalah orang Lamongan," kata Sandi.
Tapi, Sandi tak menampik bila kemunculan spanduk pecel Lamongan ini menunjukkan kecerdasan budaya dari masyarakat kota di Jawa Timur tersebut. Apalagi nyaris semua pengrajin belajar secara autodidak.
"Itu pengetahuan lokal yang sebenarnya dasar pengetahuan mainstream dalam desain. Pengetahuan mereka dari dulu setara dengan pengetahuan saat ini," kata Sandi.
Di balik lezatnya pecel ayam atau lele Lamongan yang disantap di malam hari, CNNIndonesia.com mengangkat keunikan spanduk pecel ini dalam fokus Makna Ngejreng Spanduk Pecel Lamongan, mengisahkannya dari sudut pandang para pengrajin dan dari berbagai sisi.
Keunikan spanduk pecel Lamongan ini sejatinya adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia memiliki rasa seni dan budaya yang tinggi, dan melekat dalam kehidupan sehari-hari dengan sederhana namun penuh makna, seperti kenangan lezatnya pecel lele dan ayam dari Lamongan.
Spanduk pecel Lamongan tak disangka punya makna mendalam bagi masyarakatnya. (CNN Indonesia/M. Andika Putra) |
Selasa, 24 September 2019
Melukis ikan Mas Pada Spanduk Pecel Lele
Melukis ikan Mas Pada Spanduk Pecel Lele
Kali ini Hartono Sepanduk Pekayon mengerjakan Pesanan Spanduk Tenda Nusantara,Spanduk ini Pesanan dari Lampung.kali ini Hartono spanduk Pekayon melukis Ikan Mas dengan latar warna biru pada sepanduk kaki lima
Jumat, 15 Februari 2019
Spanduk Pecel lele ( Temui Relasi)
Spanduk Pecel lele ( Temui Relasi)
HSP kedatangan Tamu Cilik ,mereka menyempatkan diri ke Work Shop,untuk wawancara dengan kami.Orang tua mereka juga pengusaha kuline
Jumat, 08 Juni 2018
Jumat, 20 April 2018
Langganan:
Postingan (Atom)




Trisno, pelukis spanduk pecel lele Lamongan mempertahankan teknik melukis. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Contoh spanduk pecel lele asal Brebes, dengan permainan gradasi merah dan biru di bagian tulisan warung. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Contoh spanduk pecel Lamongan. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Hartono tengah menggambar spanduk pecel lele Lamongan. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Trisno, pengrajin dari Lamongan meyakini spanduk juga sebagai identitas. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Spanduk pecel Lamongan tak disangka punya makna mendalam bagi masyarakatnya. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)






































